Selasa, 13 Mei 2014

Hubungan : Kunci Kesuksesan



Pada saat saya masih sekolah di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi, banyak teman saya yang saya pikir dalam kehidupannya tidak akan sukses, karena mereka sering tidak masuk kuliah. Sering membuat keonaran di sekolah, dan tentunya mereka tidak mempunyai prestasi akademis. Pemikiran saya pada saat itu, untuk menjadi seorang yang sukses dalam hidup harus memunyai prestasi secara akademik.
Setelah puluhan tahun berlalu, ternyata hasilnya berbeda dengan apa yang saya bayangkan pada saat saya masih sekolah atau kuliah, teman saya yang dianggap tidak mempunyai prestasi dan suka membuat keonaran di kelas ternyata mempunyai kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan rata rata teman saya yang mempunyai prestasi akademik di kampus. Mereka yang mempunyai prestasi akademik banyak juga yang sekarang ini mengabdi di perguruan tingginya.
Ternyata setelah saya amati dan baca dari beberapa buku mengatakan bahwa faktor hubungan dengan manusia adalah salah satu faktor untuk dapat mencapai kesuksesan, kemudian apa hubungannya dengan pengamalaman saya waktu masih sekolah atau kuliah ?, ternyata teman saya yang mempunyai prestasi secara akademis, kebanyak dari mereka tidak banyak bergaul dengan teman-temannya, sehingga kemampuan untuk berhubungan dengan teman atau orang lain tidak sebaik dengan teman lainnya.
Orang akan bertumbuh pada saat berhubungan dengan orang lain atau dalam bekerja untuk mencapai tujuan maka akan mengalami kekecewaan, kekesalan, kesakitan dan perasaan tidak enak lainnya bahkan kegagalan akan memberikan pengalaman pribadi yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan dalam dirinya. Pada saat saya ikut seminar pembicaranya adalah Nancy Dornan, dia mengatakan manusia itu seperti biji, hampir setiap biji mempunyai kulit yang keras untuk melindungi embrio dan makanan embrio yang ada didalam biji tersebut. Kalau kulit yang keras tersebut tidak terbuka, maka embrio yang ada didalam biji tersebut tidak akan tumbuh dan menghasilkan tanaman yang berbuah kembali. Agar biji dapat bertumbuh maka biji tersebut harus diletakan didalam tanah, dan terkena tekanan, air, mineral, kemudian kulitnya terbuka, dan embrio yang ada didalam biji tersebut akan bertumbuh yang mendapat makanan awal dari cadangan makanan yang didapatkan dalam dirinya kemudian dia mulai mengambil makanan dari sekelilingnya.
Sama halnya dengan manusia, bila dia ingin bertumbuh dan menghasilkan buah yang banyak, maka kulit yang keras nya harus terbuka terlebih dahulu, kemudian akan masuk banyak hal di sekeliling biji tersebut ada hal hal baik, dan ada juga hal hal yang kurang baik bahkan tidak baik sekalipun ada. Nah tergantung bagaimana kita dapat memfilter agar yang masuk jauh lebih banyak hal hal yang baik, sehingga kita akan bertumbuh dan menghasilkan buah yang lebat dan buahnya disukai oleh banyak orang, kemudian banyak orang yang ingin menanam biji dari pohon tersebut. Dari sinilah timbul kemakmuran, orang yang tidak mau memberi yang baik kepada orang lain, maka tidak ada yang mau menyebarkan dan menanamkan bijinya untuk bertumbuh.
Saya mempunyai seorang teman yang karirnya cukup sukses di dalam satu perusahaan internasional yang cukup dikenal, beberapa puluh tahun yang lalu dia mengundurkan diri dari perusahaan tersebut dan mulai merintis usaha sendiri, tetapi akhirnya dia bekerja kembali. Sekarang ini karirnya tidak sebagus pada saat dia masih bekerja di perusahaan internasional tersebut, yang saya tau dia selalu ingin mendapatkan dari orang lain, tetapi dia tidak pernah mau memberi, kalau mau memberipun selalu dia berhitung. Secara inteletual dia pandai, tetapi secara pribadi tidak bertumbuh, biji yang bagus sekalipun kalau tidak bertumbuh tidak akan menghasilkan buah yang lebat dan dapat dinikmati oleh banyak orang.

Pelajaran yang saya dapatkan
Untuk menjadi sukses kita harus menjadi tumbuhan yang berbuah lebat dan berbuah lezat sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang. Dalam kehidupan saya belajar, bahwa untuk meraih kesuksesan kita harus dapat memberikan yang paling baik dari apa yang dapat kita hasilkan, sehingga banyak orang yang menyukai kita. Dengan memberikan yang terbaik dari apa yang dapat kita hasilkan juga akan membuat kita sebagai manusia bertumbuh, karena kita selalu belajar dan belajar untuk menghasilkan yang terbaik.

Selasa, 29 April 2014

Mindset orang sukses



Membaca buku mindset yang ditulis oleh Carol S. Dweck, Ph.D, adalah seorang researcher dibidang psychology yang cukup punya nama, dia banyak research dibidang personality, Psychologi sosial, dan Psychologi perkembangan. Pada saat saya mulai membaca buku tersebut alur cerita nya enak sekali di baca, berikut kasus-kasus dalam research yang dilakukan sangat menarik.
Setiap orang mempunyai kesempatan untuk berkembang dan menjadi orang yang sukses, pertanyaannya adalah mengapa banyak orang yang tidak sukses ? apa faktor yang menyebabkan orang tersebut menjadi sukses dan tidak sukses. Menurut Dr. Dweck ada dua macam mindset, fixed mindset dan growth mindset.
Waktu anak saya lelaki yang pertama di bawa ke Pshycholog, kemudian di test untuk menggambar muka orang, ternyata gambaran mukanya tidak simetri kemudian psycholog tersebut mengatakan bahwa bakat seni anak saya kurang bagus, karena melihat hasil gambar yang tidak simetri. Tetapi sekarang ini setelah 20 tahun kemudian, anak saya dapat membuat patung kepala dengan proporsi yang bagus, dan juga banyak lukisan yang di hasilkan cukup bagus. Pada saat saya membaca buku mindset tersebut, saya mulai flash back kembali kejadian 20 tahun yang lalu terhadap anak saya, dan anak saya di kategorikan sebagai growth mindset, karena melihat bahwa test yang dilakukan hanya menandakan bahwa pada saat itu dia belum bisa, dan bila mau berlatih maka semua bisa dilakukan.
Sebaliknya bagi mereka yang mempunyai fixed mindset akan mengatakan “ya, memang saya tidak mempunyai bakat untuk menggambar, jadi mengapa saya harus terus berlatih untuk menggambar”. Karena tidak pernah berlatih maka tentu saja dia tidak akan dapat menggambar.
Biasanya anak sekolah yang tidak naik kelas dianggap sebagai anak bodoh, tidak bisa mengikuti pelajaran dan tidak dapat di perbaiki untuk menjadi pandai, pemikiran semacam ini adalah pemikiran fixed mindset.
Marva Collins mengambil beberapa anak yang gagal di sekolah negeri kota Chicago dan memperlakukan mereka sebagai anak yang genius. Walaupun sebelumnya anak tersebut dianggap sebagai anak yang tidak bisa belajar, anak yang terbelakang, atau anak yang terganggu secara emosi. Yang intinya anak anak ini adalah anak yang tidak mempunyai harapan masa depan.
Collins mulai mengajarkan mereka dengan pelajaran sekolah dasar kelas dua dengan pelajaran membaca yang paling rendah. Ternyata hasilnya luar biasa, seorang anak yang waktu masuk berumur enam tahun dan di cap sebagai anak yang terbelakang, setelah empat tahun kemudian dia sudah membaca buku sebanyak 23 buku, selama liburan musim panas termasuk buku A Tale of Two City, dan Jane Eyre. Anak itu mengerti benar apa yang dia baca. Bahkan ada anak yang umurnya baru empat tahun dia bisa mengatakan “Mrs. Collins, kalau kami tidak belajar dan bekerja keras kita akan dibawa terbang oleh Icarian tidak kemana mana”.

Pelajaran yang didapat
Saya belajar banyak pada saat menghadapi orang, dahulu berpendapat bahwa anak ini harus dapat berkembang seperti apa yang saya pikirkan, karena membentuk orang itu seperti pemahat. Dengan sudut pandang seperti itu, saya tidak dapat melihat potensi orang yang ada didalam dirinya.
Pada saat saya mengubah sudut pandang saya, bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sekarang ini saya lebih banyak menggali kelebihan dari setiap orang yang ada di kantor saya, kemudian tugas saya adalah membantu orang tersebut untuk mengembangkan potensi dirinya yang ada.
Dengan mengubah sudut pandang growth mindset seperti ini, saya melihat banyak sekali team di Andal bertumbuh, mereka dapat berkarya yang sangat baik. Hasil dari pertumbuhan tersebut, saya melihat perkembangan perusahaan yang cukup pesat sekarang ini, dan tentunya sangat membanggakan.
Menurut saya buku mindset ini sangat bagus, bagi mereka yang tertarik untuk mengembangkan sumber daya manusia, baik di dalam pekerjaan maupun di dalam keluarga, buku ini sangat cocok sekali, banyak contoh kasus yang sangat menginspirasi.

Kamis, 17 April 2014

The Power of Focus



Sering sekali saya bertemu dengan teman saya yang mengatakan kamu harus fokus kalau mau berhasil, kemudian saya bertanya apa artinya fokus ? kemudian teman saya menjawab fokus artinya mengerjakan hanya satu pekerjaan saja, kalau saya bisnis artinya saya hanya pegang satu bisnis saja, maka saya bisa fokus. Seiring berjalannya waktu saya mulai belajar kalau memang fokus harus mengerjakan satu bisnis saja, maka saya juga tidak bisa fokus, karena dalam mengembangkan bisnis software yang sangat komplek banyak sekali yang harus di kerjakan, seperti finance, marketing, produksi, support dan banyak lainnya. Pertanyaan saya adalah apa yang harus saya kerjakan kalau semuanya harus saya pikirkan tentunya saya tidak akan fokus ?.
Saya beruntung sekali mempunyai mentor yang luar biasa, pengertian fokus tidak sesederhana seperti apa yang teman saya katakan itu. Tentunya pengalaman teman saya tersebut jauh berbeda dengan pengalaman mentor saya yang telah mengembangkan bisnis nya yang besar sekali dan bahkan sampai di manca negara.
Mentor saya mengatakan saya bisa fokus kalau saya tahu pekerjaan apa yang harus saya kerjakan, dan hasil apa yang diharapkan dari pekerjaan tersebut. Tetapi sebelum tahu pekerjaan apa yang harus saya kerjakan saya harus tahu gambaran besar dari pekerjaan saya tersebut. Dari gambaran besar yang ada saya dapat menentukan prioritas pekerjaan mana yang harus saya kerjakan terlebih dahulu.
Beberapa tahun yang lalu saya diajarkan bagaimana membuat purpose atau visidengan cara menggali alasan mengapa saya mendirikan Andal Software ? setelah saya menemukan jawabannya, maka saya ditanyakan goal jangka pendek apa yang ingin di capai untuk dapat mendekatkan ke visi saya tersebut. Pertanyaannya berikutnya adalah untuk mencapai goal saya, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan dan apa ukuran pekerjaan saya, yang harus saya kerjakan untuk mencapai goal tersebut ? sudah lebih dari tiga tahun ini saya membuat goal dengan pekerjaan yang harus dikerjakan untuk mencapai goal tersebut, serta angka angka yang harus dicapai dalam pekerjaan yang harus saya kerjakan.
Kemudian setiap minggu saya review progress, angka yang dicapai dalam pekerjaan dibandingkan dengan angka yang harus di capai, dan tentunya akan terjadi perbedaan bisa lebih kecil atau lebih besar. Perbedaan tersebut kita bahas bersama dengan team, untuk mencari strategi apa yang harus di gunakan agar dapat mencapai angka yang diinginkan. Dengan melakukan diskusi secara rutin strategi apa yang harus dicapai untuk mencapai angka dari pekerjaan yang harus di jalankan, maka kita akan mendapatkan banyak cara, dan mencoba banyak cara. Semakin lama kami semakin punya banyak cara dalam mencapai sesuatu. Inilah yang disebut dengan fokus, artinya saya dapat mengerjakan banyak hal dalam satu kurun waktu tertentu, selama saya mempunyai goal dan strategi untuk mencapai goal tersebut, terus pekerjaan apa yang harus saya lakukan untuk mencapai goal tersebut, serta memantu secara rutin dari progress pekerjaan kita untuk mencapai goal, kita akan mudah mendapatkan goal tersebut.

Pelajaran yang saya dapatkan
Pada awalnya saya mengira bahwa fokus adalah saya mengejar sesuatu seperti misalnya saya ingin sales saya mencapai 100 juta, yang saya pikirkan adalah bagaimana mengejar 100 juta, dan ternyata sulit untuk mendapatkan angka tersebut. Setelah melihat proses bagaimana mendapatkan 100 juta, kemudian di pecah berdasarkan pekerjaan untuk mendapatkan 100 juta, dan kemudian dari pekerjaan tersebut di quantified berapa banyak masing masing pekerjaan harus dicapai, dan tabel ini kami beri nama Vital Sign, maka untuk mencapai 100 juta akan terlihat lebih mudah.  Pada saat ingin mencapai angka 100 juta yang saya perhatikan bukannya angka 100 juta, tetapi angka yang ada di vital sign.
Kebiasaan ini bisa digunakan di banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari, untuk mencapai sesuatu, kita perlu pecahkan menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil, kemudian kita fokuskan untuk mengerjakan pekerjaan kecil tersebut, nanti goal kita akan tercapai dengan sendirinya. Ternyata otak kita kalau diberi goal sales 100 juta, tidak akan mengerti, yang dimengerti adalah pekerjaan seperti apa yang harus saya lakukan. The Power of Focus, kalau kita mengerti cara menggunakannya sangat powerfull sekali.