Selasa, 15 April 2014

Sabar Pangkal Kaya



Sering sekali saya bertemu dengan teman saya yang mengatakan kamu harus fokus kalau mau berhasil, kemudian saya bertanya apa artinya fokus ? kemudian teman saya menjawab fokus artinya mengerjakan hanya satu pekerjaan saja, kalau saya bisnis artinya saya hanya pegang satu bisnis saja, maka saya bisa fokus. Seiring berjalannya waktu saya mulai belajar kalau memang fokus harus mengerjakan satu bisnis saja, maka saya juga tidak bisa fokus, karena dalam mengembangkan bisnis software yang sangat komplek banyak sekali yang harus di kerjakan, seperti finance, marketing, produksi, support dan banyak lainnya. Pertanyaan saya adalah apa yang harus saya kerjakan kalau semuanya harus saya pikirkan tentunya saya tidak akan fokus ?.
Saya beruntung sekali mempunyai mentor yang luar biasa, pengertian fokus tidak sesederhana seperti apa yang teman saya katakan itu. Tentunya pengalaman teman saya tersebut jauh berbeda dengan pengalaman mentor saya yang telah mengembangkan bisnis nya yang besar sekali dan bahkan sampai di manca negara.
Mentor saya mengatakan saya bisa fokus kalau saya tahu pekerjaan apa yang harus saya kerjakan, dan hasil apa yang diharapkan dari pekerjaan tersebut. Tetapi sebelum tahu pekerjaan apa yang harus saya kerjakan saya harus tahu gambaran besar dari pekerjaan saya tersebut. Dari gambaran besar yang ada saya dapat menentukan prioritas pekerjaan mana yang harus saya kerjakan terlebih dahulu.
Beberapa tahun yang lalu saya diajarkan bagaimana membuat purpose atau visidengan cara menggali alasan mengapa saya mendirikan Andal Software ? setelah saya menemukan jawabannya, maka saya ditanyakan goal jangka pendek apa yang ingin di capai untuk dapat mendekatkan ke visi saya tersebut. Pertanyaannya berikutnya adalah untuk mencapai goal saya, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan dan apa ukuran pekerjaan saya, yang harus saya kerjakan untuk mencapai goal tersebut ? sudah lebih dari tiga tahun ini saya membuat goal dengan pekerjaan yang harus dikerjakan untuk mencapai goal tersebut, serta angka angka yang harus dicapai dalam pekerjaan yang harus saya kerjakan.
Kemudian setiap minggu saya review progress, angka yang dicapai dalam pekerjaan dibandingkan dengan angka yang harus di capai, dan tentunya akan terjadi perbedaan bisa lebih kecil atau lebih besar. Perbedaan tersebut kita bahas bersama dengan team, untuk mencari strategi apa yang harus di gunakan agar dapat mencapai angka yang diinginkan. Dengan melakukan diskusi secara rutin strategi apa yang harus dicapai untuk mencapai angka dari pekerjaan yang harus di jalankan, maka kita akan mendapatkan banyak cara, dan mencoba banyak cara. Semakin lama kami semakin punya banyak cara dalam mencapai sesuatu. Inilah yang disebut dengan fokus, artinya saya dapat mengerjakan banyak hal dalam satu kurun waktu tertentu, selama saya mempunyai goal dan strategi untuk mencapai goal tersebut, terus pekerjaan apa yang harus saya lakukan untuk mencapai goal tersebut, serta memantu secara rutin dari progress pekerjaan kita untuk mencapai goal, kita akan mudah mendapatkan goal tersebut.

Pelajaran yang saya dapatkan
Pada awalnya saya mengira bahwa fokus adalah saya mengejar sesuatu seperti misalnya saya ingin sales saya mencapai 100 juta, yang saya pikirkan adalah bagaimana mengejar 100 juta, dan ternyata sulit untuk mendapatkan angka tersebut. Setelah melihat proses bagaimana mendapatkan 100 juta, kemudian di pecah berdasarkan pekerjaan untuk mendapatkan 100 juta, dan kemudian dari pekerjaan tersebut di quantified berapa banyak masing masing pekerjaan harus dicapai, dan tabel ini kami beri nama Vital Sign, maka untuk mencapai 100 juta akan terlihat lebih mudah.  Pada saat ingin mencapai angka 100 juta yang saya perhatikan bukannya angka 100 juta, tetapi angka yang ada di vital sign.
Kebiasaan ini bisa digunakan di banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari, untuk mencapai sesuatu, kita perlu pecahkan menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil, kemudian kita fokuskan untuk mengerjakan pekerjaan kecil tersebut, nanti goal kita akan tercapai dengan sendirinya. Ternyata otak kita kalau diberi goal sales 100 juta, tidak akan mengerti, yang dimengerti adalah pekerjaan seperti apa yang harus saya lakukan. The Power of Focus, kalau kita mengerti cara menggunakannya sangat powerfull sekali.

Sabtu, 05 April 2014

Antara Masalah dan Kesuksesan


Banyak orang mengatakan bahwa selama kita hidup selalu ada masalah, dan sebagian orang mengatakan bahwa masalah yang kita hadapi adalah tantangan dimana kalau kita dapat menghadapi tantangan tersebut kita akan bertumbuh dan tentunya akan menuju ke kesuksesan.
Pekerjaan saya sekarang ini menyebabkan saya sering sekali bertemu dengan teman-teman baru, dan pada saat saya berkenalan dengan teman baru, banyak hal yang menarik. Saya sering sekali menanyakan latar belakang, tujuan hidup dan tentunya keadaan mereka sekarang. Dari perbincangan tersebut saya banyak sekali mempelajari tentang kehidupan, dan yang menarik adalah sebagian orang menganggap bahwa masalah yang dihadapi itu sangat berat, dan hampir setiap saat selalu menceritakan masalahnya. Ada sebagian orang lagi yang menurut saya mereka mempunyai masalah yang cukup rumit, tetapi menghadapinya dengan penuh ceria, tanpa terlihat ada beban.
Kalau saya amati lebih jauh lagi teman-teman saya yang selalu menganggap mempunyai masalah yang besar, dia tidak pernah terlepas dari masalah. Karena memang kenyataannya masalah akan selalu datang dalam kehidupan kita, apapun masalahnya pasti ada yang harus kita hadapi.
Sebagian teman saya yang sukses rata-rata, mereka menganggap bahwa masalah itu adalah suatu tantangan yang harus dihadapi, dan bila penyelesaiannya sudah didapatkan, maka fokusnya adalah pada penyelesaiannya, masalahnya tidak dipikirkan lagi.
Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti suatu seminar dimana pembicaranya masih muda, umurnya dipenghujung 30 an, sudah menikah tetapi belum di karuniai anak, kehidupan mereka sudah menjadi global citizen, artinya mereka bisa tinggal di mana saja, di tempat-tempat yang mewah, padahal mereka ini dari keluarga yang boleh dibilang miskin pada saat dia masih kuliah. Jadi kesuksesan yang dia dapatkan adalah dari hasil usahanya sendiri bukan berasal dari orang tua.
Pembicara seminar mengatakan kalau kita mempunyai goal yang besar maka permasalahan yang ada tidak terlihat, dan bila masalah kita lebih besar dari goal kita, maka yang kita lihat adalah masalah. Jadi penyelesaiannya adalah buat goal yang lebih besar, kemudian kita kejar goal tersebut maka masalah yang kita lihat akan menjadi kecil. Seperti terlihat pada gambar diatas. Selesai seminar saya mulai refleksi diri, dan ternyata benar sekali. Pada saat saya mempunyai goal yang besar, maka fokus saya pada goal dan karena goalnya besar, pada saat saya mengejar goal tersebut mempunyai semangat yang tinggi, team juga ikut semangat maka permasalahan yang dihadapi menjadi kecil, bahkan seringkali masalahnya tidak terlihat lagi, karena waktu kita terisi penuh dengan aktifitas yang menunjang untuk tercapainya goal tersebut.

Pelajaran yang saya dapatkan
Pada saat saya merasa mempunyai masalah besar, saya sadar bahwa saya sedang tidak punya goal, yang saya lakukan adalah saya review ulang goal besar saya apa. Kemudian dilihat lagi apa yang harus saya capai dalam bulan atau tahun ini. Dengan melihat kembali goal besarnya, maka saya melihat banyak hal yang perlu di kerjakan. Permasalahan yang timbul dalam mencapai goal selalu ada, tetapi dengan permasalahan yang ada selalu kami belajar hal baru. Biasanya makin besar goal yang akan kita kejar, maka permasalahan yang timbul akan semakin banyak, tetapi penyelesaiannya akan terlihat lebih mudah dibandingkan kalau kita tidak punya goal.
Saya teringat pada saat saya sekolah di SMA dulu, ada percobaan mekanika, dimana kita membuat papan yang dimiringkan, kemudian diberikan beban diatasnya, maka beban tersebut akan meluncur, makin cepat bebang meluncur maka panas yang di timbulkan akan semakin besar.

Rabu, 02 April 2014

Antara Intuisi dan Kesuksesan



Pada kesempatan berkumpul dengan teman sering kita berbincang-bincang mengenai resep kesuksesan. Sering sekali saya mendengar teman saya mengatakan orang yang memiliki intuisi mempunyai peluang lebih besar untuk sukses. Kemudian pertanyaan saya adalah apakah yang membuat beda antara orang yang memiliki intuisi dan orang yang tidak memiliki intuisi ?
Apakah latar belakang pendidikan mempengaruhi intuisi ? ternyata tidak, ada teman saya yang Cuma lulusan SMA dan teman yang lainnya lulusan perguruan tinggi, tetapi dari segi melihat sesuatu kedepan yang lulusan SMA jauh lebih bagus. Kalau tidak pendidikan apakah latar belakang keluarga berpengaruh ? Ternyata tidak juga teman saya yang lulusan SMA tadi latar belakang keluarganya pegawai rendahan, bila dibandingkan dengan teman saya yang lulusan perguruan tinggi.
Untuk dapat melihat kedepan lebih jelas lagi tentunya kita memerlukan banyak informasi yang dapat dimasukan kedalam otak kita, pada saat kita mempunyai informasi yang banyak, maka otak kita akan memproses informasi tersebut. Setelah di proses, maka apa yang kita inginkan akan keluar dengan cepat. Saya sering sekali mengalami ada sesuatu yang ingin saya selesaikan tetapi mengalami kebuntuan artinya saya tidak dapat mengeluarkan sesuatu dari otak saya, tetapi setelah saya istirahat dan santai tiba tiba saja terbersit suatu ide.  Biasanya ide yang keluar itu bagus, tinggal kita detailkan untuk dapat dijalankan. Sering sekali ada suatu ide yang keluar pada saat kita membaca buku, karena pada saat membaca buku kita dapat membayangkan sesuatu yang kadang tidak terpikirkan sebelumnya.
Didalam bukunya yang berjudul competing on Analytics, Thomas H. Davenport menjelaskan bahwa keputusan keputusan intuitif itu berdasarkan dari data data yang sebelumnya udah pernah di dapatkan oleh orang tersebut. Jadi kalau saya simpulkan bahwa kemampuan intuitif harus ditunjang dengan informasi dan data yang cukup. Makin banyak data yang dimiliki makin bagus juga intuisinya, dan yang kedua adalah rasa ingin tahu yang mendorong seseorang untuk selalu bertanya, karena pada saat orang bertanya didalam dirinya, maka dia akan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Dalam perjalanannya mencari jawaban atas pertanyaan yang dicari, dan informasi yang telah didapatkan dengan berdiskusi atau membaca, maka akan timbul suatu intuisi yang sangat kuat.
Pelajaran yang saya dapatkan
Setelah saya membaca buku Competing on Analytics yang di tulis oleh Thomas H. Davenport, serta pengalaman di Andal Software, saya semakin yakin bahwa kekuatan suatu organisasi untuk bertumbuh perlu mempunyai data yang bagus. Selama ini di Andal Software dalam memutuskan sesuatu harus ada dasarnya, dan dasar keputusan tersebut berasal dari data yang ada.
Selama ini kami membiasakan untuk banyak bertanya, seperti misalnya tahun depan target kita di pasar apa ? mana yang lebih besar di pasar manufaktur atau pasar Office ?, untuk menjawab pertanyaan tersebut kita akan mencari data misalnya jumlah manufaktur dan office, mana yang lebih besar. Kemudian kebutuhan Payroll di kedua bidang tersebut mana yang paling membutuhkan ? mengapa mereka membutuhkan ?, untuk menjawab pertanyaan berikutnya kita juga melakukan research data.
Sekarang ini yang kami rasakan di Andal Software, kita sangat peka sekali dengan perubahan perubahan yang terjadi di pasar, dan saya merasakan untuk melihat Andal Software beberapa tahun ke depan lebih jelas lagi, team Management Andal Software sudah dapat melihat secara jelas dalam waktu 5 tahun kedepan Andal Software akan seperti apa.