Rabu, 18 Januari 2012

Industri Software Outlook 2012 di Indonesia

1. Latar belakang 
Belakangan ini pemerintah sudah menggalakan industri kreatif, yang dimulai dengan seminar dan pengumpulan pendapat mengenai industri kreatif. Kalau kita bicara mengenai industrti kreatif cukup banyak bidangnya, karena saya berkecimpung di industri IT maka saya akan persempit pembahasannya hanya di industri IT saja. Pertumbuhan industri TI di dunia menghasilkan billioner-billioner baru yang relatif sangat muda, kalau kita kaji lebih dalam industri TI mempunyai nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan industri konvensional lainnya. Seperti pada penjualan software Microsoft, pada saat software dijual di pasar prosentasi harga pokok dan nilai jual sangat kecil sekali mungkin kurang dari 5% bahkan ada yang kurang dari 1% tergantung dari deliverynya. Bila penjualannya dilakukan lewat internet maka prosentase HPP nya jauh lebih kecil lagi, seperti yang dilakukan oleh ITune. Pilihan pemerintah mengembangkan industri kreatif untuk menopang perekonomian Indonesia sangat tepat mengingat Indonesia mempunyai resources yang sangat berlimpah untuk Industri kreatif, yaitu jumlah penduduknya mencapai 237 juta di tahun 2011. Pasar TI di Indonesia tumbuh dengan pesat menurut data dari Business Monitor International (BMI) pengeluaran biaya TI di Indonesia pada tahun 2015 mencapai US$ 10.2 Billion, dengan pertumbuhan pertahunnya mencapai 18% (CAGR) hingga empat tahun kedepan. Pasar yang besar ini banyak didominasi oleh software dari luar yang nilainya cukup besar, sedangkan software lokal nilainya relatif masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan software dari luar. Bila Pasar TI di Indonesia cukup besar, sumber daya manusianya cukup banyak, pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia dapat mengembangkan Industri TI agar dapat menciptakan perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti yang terjadi di negara-negara lain, India, Amerika, China. Tulisan ini mencoba untuk memberikan wacana mengenai Industri TI, bisnis model dan pengembangan sumber daya manusianya.

2. Pangsa pasar TI 
Data data pangsa pasar TI yang sekarang ini ada kebanyakan dari dunia korporasi, dengan makin mudah dan murahnya teknologi, maka sekarang pangsa pasarnya menjadi lebih besar yaitu basar konsumen. Dari data yang didapatkan dari Business Monitor International (BMI) pangsa pasar TI di Indonesia mencapai US$ 10.2 Billion pada tahun 2015, dari mulai tahun 2012 ini pertumbuhannya bisa mencapai 18 % (CAGR), pertumbuhan ini sangat besar sekali. Ini dapat dijadikan peluang untuk mengambil sebagian besar pangsa software tersebut. Jumlah penduduk Indonesia yang sekarang ini telah mencapai 237 juta jiwa, merupakan pasar yang besar untuk produk konsumen, kecenderungan industri TI pada awalnya menggarap pasar korporasi, sekarang ini berlomba lomba untuk mengambil pasar konsumen yang dimulai dari Apple computer yang berhasil meraih pasar konsumen mulai dari Ipod, Iphone, dan yang terakhir Ipad, yang sudah banyak turunannya seperti Samsung galaxi Tab. Tidak kalah industri software juga masuk ke pasar konsumen dengan membuat aplikasi game. Belum ada data resmi yang menyebutkan angka besarnya pasar konsumen TI di Indonesia. Tetapi menurut dugaan saya dengan jumlah penduduk yang besar maka pangsa pasar TI juga akan besar, ini terlihat dari pasar Handphone yang begitu besar, sekarang ini hampir setiap penduduk Indonesia sudah mempunyai Handphone, dan mulai masuk ke smartphone. Pada saat pengguna smartphone menjadi besar maka aplikai mobile juga akan bertumbuh dengan pesat, sejalan dengan pertumbuhan perangat smart phonenya.  

3. Model Bisnis Industri TI
 Belum ada data yang akurat menyangkut jumlah Industri Software di Indonesia, menurut perkiraan jumlahnya bisa lebih dari 200 perusahaan baik kecil maupun besar, dan yang lebih besar lagi jumlahnya adalah Sistem Integrator mereka yang menjual jasa untuk melakukan implementasi software biasanya software dari luar. Tulisan ini akan membatasi pembahasannya pada sofware saja, jadi bila di lihat dari Industri software di Indonesia, bisa dikerjakan mulai dari dua orang hingga ratusan orang, bila dilihat dari hasil produknya maka dapat dibedakan menjadi tiga macam

Custom software : membuat software untuk pelanggan tertentu, dan setiap ada pesanan harus dibuat dari awal
Semi Custom      : pihak pembuat sudah mempunyai software template seperti software untuk accounting, bila ada perusahaan membutuhkan software accounting, maka software tersebut disesuaikan untuk perusahaan pembeli
Product Software : pembuat software membuat satu macam software kemudian di jual ke banyak pelanggan dapat berupa aplikasi desktop atau web

3.1. Perbandingan dari ketiga bisnis model 

 
3.2. Model Bisnis mana yang cocok untuk dikembangkan ?
Sejak berdiri di tahun 1988, Andal Software telah berganti beberapa kali bisnis modelnya, pada saat pertama kali berdiri kami menerima pesanan dari kastemer. Pertimbangan memilih bisnis model custom software adalah karena modal kami terbatas, dengan memilih model bisnis ini, kami tidak perlu mempunyai modal besar dan resiko kerugian relatif kecil. Karena software yang kami buat selalu sudah ada yang memesan, hal ini tidak berarti tidak ada resiko, resiko yang sering di hadapi oleh custom software adalah kebutuhan user tidak tertangkap dengan baik. Sehingga pada saat software di serahkan pada kastemer, masih harus ada perbaikan dan penyesuaian. Kami mengubah bisnis model beberapa kali, karena kami mempunyai visi untuk membesarkan Andal Software menjadi perusahaan Industri yang besar seperti persuhaan perusahaan industri lainnya, hal ini mungkin dicapai, hanya bila Andal Software mempunyai produk. sehingga kami putuskan untuk masuk ke produk. Dengan membuat produk diharapkan penjualan software dapat dilakukan tanpa tergantung pada programmer untuk membuat softwarenya terlebih dahulu pada saat melakukan penjualan. Bagian penjualan dapat terus menjual softwarenya bila produk softwarenya sudah jadi. Resiko membuat produk jauh lebih besar dibandingkan dengan custom software, tetapi returnnya juga jauh lebih besar dibandingkan dengan custom software bila software tersebut dapat diterima di pasar.

3.3. Nilai Ekonomis Custom Software 
Bila dilihat nilai ekonomis dari custom software seperti pada grafik disamping ini, setiap kenaikan revenue akan dibarengi dengan kenaikan biaya. Sehingga model bisnis ini sangat cocok bagi perusahaan yang baru mulai karena faktor resiko sangat kecil sekali, tetapi kalau perusahaan tersebut sudah mencapai skala tertentu, untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih besar lagi, model bisnisnya harus berubah. Faktor ini pulalah yang melatar belakangi perubahan model bisnis yang dilakukan oleh Andal Software di era tahun 1992.

3.4. Nilai ekonomis Produk software
Grafik ekonomis untuk produk jauh berbeda dengan produk Custom software, pada Produk Software terlihat ada titik persinggungan antara revenue dan biaya. Titik singgung tersebut yang sering dinamai Break Even Point (BEP). Bila suatu perusahaan TI membuat suatu produk, dan jumlah penjualan unit produknya tidak mencapai titik BEP, maka sudah dipastikan bahwa perusahaan tersebut akan menderita kerugian. Tetapi setelah penjualannya lebih dari titik BEP maka baru mendapatkan keuntungan. Dan yang menarik grafik revenue setelah BEP akan naik secara eksponensial, sedangkan kenaikan grafik biaya linear. Sehingga untuk bisnis model produk software harus mengejar volume diatas BEP. Kalau dilihat grafiknya tentunya sangat menarik untuk menggeluti model bisnis software produk, pertanyaannya adalah “Mengapa tidak banyak perusahaan yang beralih ke Produk ?”, sesuatu yang mempunyai return yang besar, pasti mempunyai resiko yang besar pula. Ini terbukti dengan adanya BEP, bila perusahaan beralih ke produk kemudian tidak dapat mencapai ke BEP perusahaan tersebut akan mengalami kerugian yang cukup besar. Jadi pertanyaannya akan berubah “Beranikah mengambil resikonya ?”, Andal terjatuh pada saat bermain di produk, waktu itu Andal Software akan mengganti target pasarnya dari Mass Market ke Enterprise. Harga yang harus di bayar memang mahal tetapi sekarang Andal Software sudah memetik hasilnya, tanpa pengalaman dan merasakan kejatuhan pada akhir tahun 2002 dan 2003, mungkin perkembangan Andal Software tidak seperti sekarang ini.

3.5. Nilai tambah dari Services
Pada saat suatu produk hampir menguasai pasar, maka tingkat pertumbuhan penjualan akan menurun. Peningkatan pertumbuhan dapat dilakukan dengan mengubah bisnis modelnya dari Produk ke services. Seperti terlihat pada grafik disamping ini, penambahan penjualan perunit akan menambahkan revenue, demikian juga pada saat dilakukan penjualan services. Semakin banyak unit yang terjual, akan semakin besar potensi penjualan servicesnya. Grafik ini menggambarkan bagaimana penjualan ITune akan semakin besar seiring dengan bertambahnya penjualan gadget Apple, seperti IPod, IPhone, dan IPad. Dari grafik ini pula Andal Software akan memutuskan mengubah bisnis modelnya ke services pada tahun 2014 nanti, pada saat jumlah pemakai produk Andal Software sudah menucukupi untuk memulai menjual services.

3.6. Pemilihan Model Bisnis 
Bila dilihat dari beberapa grafik diatas memang sangat menarik kalau kita langsung masuk kedalam Produk Software, tetapi hal ini akan sulit sekali dilakukan bagi pemula. Seorang pemula yang belum mempunyai banyak pengalaman akan sangat sulit untuk membuat produk. kalau memang sulit membuat produk pertanyaan berikutnya “Mengapa ada orang seperti Mark Zukerberg yang membuat facebook begitu boom terus menjadi kaya ?”. Kalau kita baca riwayat bagaimana mereka bisa sampai membuat facebook tentunya sangat menarik, facebook tidak dibuat dalam satu hari menemukan ide kemudian langsung dibuat. Demikian juga para pembuat game terkenal seperti Angry Bird, Skype, dan Twitter. Dalam pengembangan produk, produk menjadi sangat penting. Kita lihat pengalaman MP3 player pada saat awal banyak sekali yang membuat MP3 player, tetapi setelah IPod keluar yang lainnya tidak kedengaran lagi. Karena kita tahu produk IPod mempunyai kualitas yang sangat baik. Banyak juga yang membuat tablet PC beberapa tahun yang lalu, merk terkenal seperti Toshiba, Acer juga membuat tablet PC, tetapi setelah IPad keluar, IPad menguasai pasar tablet. Kembali lagi kualitas produk dan desain produk sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasar. Setelah produk, kemudian tentukan bisnis modelnya. Kita tahu bahwa untuk masuk ke pasar Operating System tidak mudah karena beberapa tahun yang lalu windows menguasai pasar, juga untuk smart phone windows mobile sudah menguasai pasar mengalahkan symbian dari Nokia. Kemudian Android masuk kepasar dengan produk yang bagus dan bisnis model yang tepat. Maka dengan cepat Android masuk dan menguasai pasar smartphone.  

4. Sumber Daya Manusia 
Banyak perusahaan TI merasa kesulitan untuk mencari programmer padahal lulusan TI dari berbagai universitas di Indonesia cukup banyak, diperkirakan ada sekitar 10,000 mahasiswa lulus jurusan TI per tahunnya. Mengapa masih sulit untuk mencari tenaga TI yang berkualitas ?. Ada beberapa faktor yang saya perhatikan.
  1. Banyak dari mereka memilih untuk membuka usaha sendiri, baik yang berkaitan dengan TI maupun tidak ada hubungannya sama sekali dengan TI. 
  2. Kebanyakan dari mahasiswa yang memilih jurusan TI membayangkan enaknya kerja di TI dengan penghasilan yang tinggi, setelah bekerja mereka mendapatkan imbalan yang standard dan pekerjaannya banyak lembur 
  3. Para lulusan TI banyak yang tidak memenuhi kualifikasi kebutuhan di perusahaan TI yang menuntut kualifikasi yang lebih tinggi 

4.1. Bagaimana cara meningkatkan tenaga TI yang berkualitas ? 
Akuisisi yang dilakukan oleh pihak luar ke beberapa start up di Indonesia, menggalakan Start up lokal, dan kalau kita lihat banyak sekali para pemula di bidang usaha TI bermunculan dengan banyak ragam aplikasi yang mereka buat. Kelihatannya akuisisi perusahaan TI lokal oleh perusahaan luar negeri menjadi harapan bagi pengembang lokal. Kalau kita kaji lebih mendalam seorang profesional TI di Indonesia belum ada yang mendapatkan penghasilan yang lumayan tinggi, bila ada suatu contoh bahwa seorang profesional TI pun dapat berpenghasilan yang lumayan tinggi, mungkin akan memberikan inspirasi para mahasiswa lainnya untuk terjun ke profesional TI Tentunya kita masih ingat di jaman awal internet masuk ke Indonesia, banyak sekali perusahaan TI didirikan dan mereka menarik banyak orang orang TI, sehingga nilai profesional TI melambung tinggi, mereka ber bondong-bondong untuk bekerja di bidang TI, yang akhirnya kolap, karena tidak ditunjang oleh model bisnis yang sustainable. Bila perusahaan TI dapat memberikan imbalan yang jauh lebih baik dengan membuat suatu produk yang nilai tambahnya cukup tinggi, maka perusahaan tersebut mendapatkan profesional TI yang bagus, dan akhirnya perusahaannya akan bertumbuh lebih pesat lagi. Hal ini terjadi di Google, dimana perusahaan tersebut memberikan fasilitas yang baik sekali kepada karyawannya.  

5. Mengembangkan Industri TI di Indonesia 
Bila kita berbicara tentang industri TI, dari yang berhasil mereka mempunyai pola yang berbeda, seperti Apple dikenal dengan inovasinya, pada saat pertama kali social media diperkenalkan Friendster dengan cepat menjadi terkenal, kemudian disusul oleh Facebook dan Twitter sedangkan multiply dan friendster yang mengawali social media sekarang ini sudah sangat berkurang populasinya. Dalam kita menentukan industri software ada tiga hal yang perlu kita pertimbangkan :
  1. Produk 
  2. Target market 
  3. Bisnis model 
Pada saat Andal Software menentukan untuk ke software Payroll, kita menentukan kriteria pasarnya terlebih dahulu, kemudian baru dibuat produknya, dan baru menentukan bisnis modelnya. Sedangkan Friendster dan multiply awalnya ditentukan oleh kebutuhan dari sekelompok orang untuk berinteraksi, kemudian membuat produknya baru kemudian menentukan bisnis modelnya. Perkembangan start up lokal di Indonesia cukup membanggakan, banyak inovasi-inovasi baru, kebanyakan dari para start up lokal bermain di aplikasi Web. Yang perlu dipikirkan oleh para startup lokal sebetulnya tidak hanya produknya saja, tetapi harus dilihat juga berapa besar pasarnya ? bagaimana dengan pasar apakah dapat mengadopsinya ? karena untuk mengubah kebiasaan di pasar tidaklah mudah. Kebiasaan dapat diubah bila penggantinya jauh lebih mudah digunakan dibandingkan dengan yang digantikan. Hal ini terjadi pada IPod, beberapa waktu sebelum IPod, banyak bermunculan MP3 player, tetapi IPod dapat membuat MP3 Player jauh lebih sederhana dan mudah digunakan, serta mempunyai kualitas yang sangat bagus, serta design yang enak dibawa, maka IPod menguasai pasar MP3 Player. Apple tidak memperkenalkan MP3 player tetapi Apple menyempurnakan MP3 player yang ada di pasar. Didalam pemasaran bila ada satu produk yang menggantikan produk yang sudah ada tetapi dengan cara pemakaian yang berbeda maka disebut sebagai disruptive marketing. IPod menggantikan walkman, IPad menggantikan buku, majalah cetakan, Notebook. Buku yang ditulis oleh Geofry A Moore tentang prilaku pasar untuk barang-barang baru ditulis didalam bukunya yang berjudul “Crossing the Chasm” , buku tersebut sangat bagus sekali penjelasannya untuk masuk ke pasar yang baru. Model Bisnis juga berperan sangat penting dalam memasuki sebuah pasar, beberapa tahun yang lalu pasar smartphone di dominasi oleh windows Mobile, operating system untuk smart phone. Tetapi dalam sekejap Android sudah dapat menggantikan dominasi Windows Mobile. Pada saat itu saya berpikir windows mobile akan menguasai pasar OS di Smart phone seperti windows menguasai di pasar Desktop. Tetapi setelah Android keluar dan dengan cepatnya menguasai pasar smartphone saya kagum dengan Android, dan ternyata selain produknya yang bagus, Android mempunyai bisnis model yang berbeda dengan Windows Mobile. Android diberikan secara gratis sedangkan Windows mobile harus membayar, Android mendapatkan uangnya bukan dari penjualan softwarenya melainkan dari tempat lain. Walaupun Android diberikan gratis tetapi kualitas produknya sangat baik sekali. Sehingga banyak yang mau untuk mengadopsinya.

Tidak ada komentar: